AS Tutup Wilayah Udara El Paso, Ancaman Penembakan Drone Kartel Dikeluarkan
Pemerintah federal Amerika Serikat secara mendadak menutup wilayah udara di sekitar El Paso, Texas, selama sepuluh hari mulai Rabu, sebagai respons terhadap dugaan aktivitas drone yang dioperasikan oleh kartel. Pihak berwenang tegas menyatakan bahwa setiap pelanggar yang nekat memasuki zona terlarang akan ditembak jatuh tanpa peringatan.
Penutupan mendadak ini, meskipun tidak secara eksplisit diumumkan alasannya oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA), banyak spekulasi mengarah pada upaya serius memerangi penggunaan drone oleh sindikat kriminal transnasional. Kartel narkoba di perbatasan AS-Meksiko semakin sering memanfaatkan teknologi drone komersial, baik yang dimodifikasi maupun rakitan, untuk berbagai tujuan ilegal seperti pengintaian perbatasan, pengiriman narkoba dalam skala kecil, dan bahkan penyelundupan manusia. Kemampuan drone untuk menghindari deteksi tradisional menjadikannya ancaman baru yang signifikan bagi keamanan nasional dan penegakan hukum.
Insiden ini menyoroti eskalasi serius dalam perlombaan senjata teknologi antara penegak hukum dan organisasi kriminal, khususnya dalam domain drone. Bagi industri teknologi, respons agresif ini dapat memicu inovasi lebih lanjut dalam sistem kontra-drone (C-UAS) yang lebih canggih, termasuk teknologi jamming frekuensi, penembakan sinyal, hingga metode penembakan kinetik. Namun, kebijakan penembakan jatuh juga menimbulkan pertanyaan etika dan hukum yang kompleks terkait penggunaan kekuatan mematikan terhadap aset tak berawak, serta potensi dampak pada operasi drone komersial dan rekreasi yang sah di masa depan. Keputusan ini berpotensi menjadi preseden penting bagi regulasi dan penanganan ancaman drone non-negara secara global.