Gedung Putih Ubah Foto Penangkapan Protes ICE, Pengacara Kencam Keterlaluan

News 24 Jan 2026

Gedung Putih baru-baru ini mengunggah foto penangkapan seorang pengunjuk rasa yang menentang kebijakan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), yang secara mencolok telah dimanipulasi secara digital. Foto yang diubah tersebut bertujuan untuk membuat pengunjuk rasa tersebut terlihat menangis tersedu-sedu. Tindakan ini segera memicu kecaman keras dari pengacara individu tersebut, yang menyebut tindakan Gedung Putih sebagai 'keterlaluan karena mengarang cerita'. Insiden ini mengemuka setelah pernyataan dari Gedung Putih yang menyebutkan 'meme akan terus berlanjut', mengisyaratkan kesengajaan di balik publikasi konten yang telah dimodifikasi.

Insiden ini menggarisbawahi semakin menipisnya garis antara fakta dan fiksi dalam komunikasi digital era modern, terutama ketika melibatkan lembaga pemerintah. Manipulasi gambar, yang kini dapat dilakukan dengan mudah menggunakan perangkat lunak seperti Adobe Photoshop atau bahkan alat berbasis kecerdasan buatan, memungkinkan perubahan detail kecil hingga signifikan pada sebuah foto. Dalam kasus ini, tujuan manipulasi adalah untuk membentuk persepsi publik secara negatif terhadap seorang kritikus pemerintah. Praktik 'shallowfake' seperti ini, meskipun belum mencapai kompleksitas 'deepfake', tetap merusak integritas informasi visual dan menimbulkan pertanyaan serius tentang etika penggunaan teknologi oleh pihak berwenang yang memegang kekuasaan komunikasi publik.

Dampak dari manipulasi citra oleh entitas sekuat Gedung Putih sangat luas, tidak hanya bagi individu yang menjadi target, tetapi juga bagi ekosistem informasi global. Bagi industri teknologi informasi, kasus ini mempercepat urgensi pengembangan solusi verifikasi keaslian media digital, mulai dari alat forensik gambar hingga sistem penandaan digital (digital watermarking) yang lebih canggih untuk melacak asal-usul konten. Pengguna internet semakin dihadapkan pada tantangan untuk membedakan konten asli dari yang dimanipulasi, mengikis kepercayaan pada sumber resmi dan memicu skeptisisme. Ini menuntut tingkat literasi media digital yang lebih tinggi dari publik dan mendorong platform media sosial untuk memperkuat kebijakan terhadap penyebaran informasi palsu, demi menjaga kualitas diskursus publik dan fondasi demokrasi.

Tag