Kongres AS Desak NASA Kaji Opsi 'Penyimpanan' ISS, Hindari Deorbit.
Kongres Amerika Serikat mendesak NASA untuk mengevaluasi kelayakan memindahkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) ke "pelabuhan orbital aman" setelah masa pensiunnya. Arahan ini muncul sebagai bagian dari rancangan undang-undang yang mengarahkan agensi tersebut mempertimbangkan kembali rencana deorbitasi ISS yang selama ini menjadi opsi utama. Mandat ini menyoroti keinginan untuk melestarikan aset luar angkasa bernilai miliaran dolar daripada menghancurkannya.
Rencana awal NASA untuk ISS, yang diperkirakan akan beroperasi hingga tahun 2030 atau 2031, adalah melakukan deorbitasi terkontrol. Dalam skenario ini, sebagian besar struktur ISS akan terbakar saat masuk kembali ke atmosfer Bumi, dengan sisa puing-puing jatuh ke area yang aman di Samudra Pasifik. Gagasan "penyimpanan" ini menimbulkan tantangan teknis signifikan. ISS memiliki massa lebih dari 420.000 kg dan memerlukan bahan bakar masif serta sistem propulsi yang kuat untuk memindahkannya ke orbit yang lebih tinggi dan stabil, seperti orbit kuburan (graveyard orbit) di luar jalur satelit operasional. Selain itu, menjaga integritas struktural, sistem daya (misalnya, panel surya dan baterai), serta mitigasi ancaman mikrometeorit atau puing antariksa lainnya tanpa kehadiran kru atau pemeliharaan aktif selama puluhan tahun merupakan kendala kompleks yang memerlukan inovasi teknologi substansial.
Keputusan ini dapat mengubah paradigma dalam perencanaan akhir masa pakai aset luar angkasa berukuran besar. Jika opsi penyimpanan terbukti layak secara teknis dan finansial, hal ini akan mendorong inovasi dalam pengembangan sistem propulsi otonom, teknologi pemeliharaan robotik jarak jauh, dan desain modul luar angkasa yang lebih tahan lama untuk misi jangka panjang tanpa intervensi manusia. Implikasinya tidak hanya terbatas pada efisiensi dan keberlanjutan ruang angkasa, tetapi juga membuka potensi pengembangan infrastruktur orbital yang dapat 'diparkir' dan diaktifkan kembali di masa depan. Langkah ini berpotensi mengurangi biaya peluncuran misi baru, melestarikan investasi teknologi raksasa, dan mengurangi risiko fragmentasi puing antariksa di orbit rendah Bumi jika deorbitasi tidak berjalan sempurna.