NASA Akui Keterlambatan Laju Penerbangan Roket SLS Tiga Tahun
NASA baru-baru ini secara resmi mengakui laju penerbangan roket Space Launch System (SLS) yang sangat lambat, menyatakan jeda tiga tahun antar misi sebagai durasi yang "terlalu lama." Pengakuan ini datang di tengah kritik berkelanjutan terhadap program peluncuran wahana antariksa paling kuat milik lembaga tersebut, yang menjadi tulang punggung ambisi eksplorasi Bulan dan Mars.
Roket SLS dirancang sebagai inti program Artemis NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan dan, pada akhirnya, ke Mars. Namun, pengembangannya telah dibayangi oleh miliaran dolar pembengkakan biaya dan jadwal yang terus tertunda. Dengan biaya peluncuran yang diperkirakan mencapai $4,1 miliar per misi untuk Artemis I, laju penerbangan yang rendah – seperti jeda tiga tahun antara misi Artemis I yang berhasil pada November 2022 dan target Artemis II pada akhir 2025 – menimbulkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan dan efisiensi program ini. Kinerja ini kontras tajam dengan solusi peluncuran komersial yang menawarkan frekuensi lebih tinggi dan biaya lebih rendah, seperti Starship milik SpaceX.
Keterlambatan dan biaya tinggi SLS memiliki dampak signifikan terhadap visi eksplorasi luar angkasa jangka panjang, terutama dalam konteks pengembangan teknologi dan inovasi industri. Dana yang terserap oleh program SLS yang mahal berpotensi menghambat investasi pada proyek penelitian dan pengembangan teknologi baru di sektor kedirgantaraan dan IT yang lebih luas. Hal ini juga menekan kemampuan NASA untuk menjalankan misi ilmiah lain yang krusial dan dapat mendorong lembaga tersebut untuk semakin mengandalkan kemitraan swasta dalam mencapai tujuan luar angkasanya, mempercepat pergeseran paradigma dalam industri antariksa global.