NASA Akui Keterlambatan Roket SLS
NASA baru-baru ini mengakui keterlambatan yang signifikan dalam program roket Space Launch System (SLS) mereka, dengan masa tunggu antara penerbangan yang mencapai tiga tahun. Pengakuan ini datang setelah kritik dan spekulasi tentang efisiensi dan efektivitas program SLS yang digunakan untuk misi Artemis ke bulan.
Program SLS merupakan bagian integral dari misi Artemis, yang bertujuan untuk mengembalikan manusia ke permukaan bulan pada tahun 2025. Roket SLS dirancang untuk menjadi salah satu roket paling kuat yang pernah dibangun, dengan kemampuan mengangkat muatan yang sangat besar ke orbit dan bahkan ke luar angkasa. Namun, keterlambatan dan biaya yang meningkat telah menjadi perhatian besar bagi NASA dan mitra industri mereka. Dari sisi teknis, SLS menggunakan kombinasi mesin RS-25 yang sudah teruji dan solid rocket booster (SRB) untuk mencapai kekuatan dorong yang diperlukan.
Dampak dari keterlambatan ini dapat dirasakan tidak hanya oleh NASA tetapi juga oleh industri antariksa secara keseluruhan. Keterlambatan dalam program SLS dapat memengaruhi jadwal dan anggaran misi lainnya, termasuk misi komersial yang bergantung pada infrastruktur dan teknologi yang sama. Selain itu, keterlambatan ini juga dapat mempengaruhi persaingan global dalam eksplorasi antariksa, karena negara dan perusahaan lain terus mempercepat upaya mereka untuk mencapai tujuan antariksa yang ambisius. Oleh karena itu, pengakuan NASA tentang keterlambatan SLS merupakan langkah penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan program antariksa yang sangat kompleks dan mahal ini.