NASA Akui Laju Penerbangan Roket SLS Terlalu Lambat
NASA secara terbuka mengakui laju penerbangan roket Space Launch System (SLS) yang terlalu lambat, dengan pejabat tinggi menyatakan, "tiga tahun adalah waktu yang lama." Pengakuan ini menyoroti kekhawatiran yang berkembang mengenai efisiensi program eksplorasi luar angkasa Artemis dan implikasi jangka panjangnya terhadap misi kembali ke Bulan dan seterusnya.
SLS, roket angkut super berat milik NASA, dirancang sebagai tulang punggung untuk membawa astronaut dan kargo ke Bulan dalam program Artemis. Setelah peluncuran sukses Artemis I tanpa awak pada November 2022, misi Artemis II yang berawak dijadwalkan tidak lebih cepat dari September 2025, diikuti oleh misi pendaratan Artemis III pada tahun 2026 atau 2027. Jeda waktu yang signifikan antar penerbangan ini, yang masing-masing menghabiskan miliaran dolar, menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan jadwal dan biaya operasional. Pengembangan SLS sendiri telah menelan biaya puluhan miliar dolar selama lebih dari satu dekade, menghadapi tantangan teknis dan logistik yang kompleks dalam produksi serta persiapan peluncuran.
Laju penerbangan SLS yang lambat berpotensi menghambat kemajuan NASA dalam mencapai tujuan eksplorasi luar angkasa. Penundaan misi dapat menyebabkan peningkatan biaya, penurunan dukungan publik dan politik, serta hilangnya momentum dalam perlombaan antariksa global. Situasi ini juga memicu perbandingan dengan pendekatan sektor swasta, seperti SpaceX dengan Starship yang dapat digunakan kembali, yang menekankan frekuensi peluncuran tinggi untuk mencapai efisiensi dan inovasi. Bagi industri teknologi dan eksplorasi antariksa, tantangan SLS menjadi studi kasus penting dalam menyeimbangkan ambisi teknis tinggi dengan realitas jadwal, anggaran, dan kapasitas manufaktur, yang pada akhirnya memengaruhi visi masa depan manusia di luar Bumi.